anganku menutupi wajahku, pikiranku menjadi liar. Aku
mendengar suara pintu di seberang ruangan ditutup di belakangku yang diikuti
oleh suara mengunci pintu itu. Sepertinya ada dua orang di sana. Aku mengintip
dari tanganku dan melihat seorang pengantin wanita yang paling cantik dalam
hidupku. Tingginya yang sama dengan adiknya, dia mempunyai sebuah wajah yang
sama cantiknya dan bentuk tubuh sempurna yang tak berbeda. Jika rambutnya tidak
lebih panjang, pasti akan sulit untuk membedakan mereka. Aku berdiri, penisku
masih keras tapi tersembunyi oleh pakaian resmi yang kupakai. Malu dengan
pemikiranku akan Erna, aku mendekati Endang yang mengenakan gaun pengantin
anggun, menggairahkan.
"Sayang, kamu cantik sekali," kataku.
Paha Endang yang terlihat menyembul dari balik gaun putihnya hampir membuatku meledak di dalam celana dalamku. Jasku sedang dibuka oleh seseorang di belakangku. Aku menoleh dan menemukan Erna. Keinginan yang penuh gairah kembali lagi. Endang tersenyum pada Erna dan melihat mata Endang, aku tahu putri bungsuku pasti tersenyum juga. Aku mulai untuk mencoba katakan sesuatu, tapi Endang memotong..
"Sayang, kamu cantik sekali," kataku.
Paha Endang yang terlihat menyembul dari balik gaun putihnya hampir membuatku meledak di dalam celana dalamku. Jasku sedang dibuka oleh seseorang di belakangku. Aku menoleh dan menemukan Erna. Keinginan yang penuh gairah kembali lagi. Endang tersenyum pada Erna dan melihat mata Endang, aku tahu putri bungsuku pasti tersenyum juga. Aku mulai untuk mencoba katakan sesuatu, tapi Endang memotong..