Kulepaskan tubuh Febi, kambali kami
bercinta dengan doggie style, tak terasa lebih setengah jam kami bercinta,
belum ada tanda tanda orgasme diantara kami. Kami berganti posisi, Febi sudah
di pangkuanku, tubuhnya turun naik mengocokku, buah dadanya berayun ayun di
mukaku, segera kukulum dan kusedot dengan penuh gairah hingga kepalaku terbenam
diantara kedua bukitnya. Gerakan Febi berubah menjadi goyangan pinggul,
berputar menari hula hop di pangkuanku, berulang kali dia menciumiku dengan gemas,
sungguh tak pernah terbayangkan kalau akhirnya aku bisa saling mengulum
dengannya. Tak lama kemudian, tiba tiba Febi menghentikan gerakannya, dia juga
memintaku untuk diam. "Sebentar Om, Febi nggak mau keluar sekarang, masih
banyak yang kuharapkan dari Om" katanya sambil lebih membenamkan kepalaku
di antara kedua bukitnya, aku hampir tak bisa napas. "Kamu turun
dulu" pintaku
"Tapi Om, Febi kan belum" protesnya "Udahlah percaya Om" potongku
Kutuntun dan kuputar tubuhnya
menghadap dinding, kubungkukkan sedikit lalu kusapukan penisku ke vaginanya
dari belakang, Febi mengerti maksudku, kakinya dibuka lebih lebar, mempermudah
aku melesakkan penisku. Tubuhnya makin condong ke depan, desah kenikmatan
mengiringi masuknya penisku mengisi vaginanya. "ss.. aduuh Om, enak Om..
belum pernah aku.. aauu" desahnya sambil membalas gerakanku dengan goyangan
pinggulnya yang montok. Kami saling bergoyang pinggul, saling memberi
kenikmatan sementara tanganku menggerayangi dan meremas buah dadanya. Nikmat
sekali goyangan Febi, lebih nikmat dari sebelumnya, berulang kali dia menoleh
memandangku dengan sorot mata penuh kepuasan, mungkin dia belum pernah
melakukan dengan posisi seperti ini. Tubuhnya makin lama makin membungkuk
hingga tangannya sudah tertumpu meja sebelah. Kudorong sekalian hingga dia
telungkup di atasnya, aku tetap masih mengocoknya dari belakang, dia menaikkan
satu kakinya di pinggiran meja, penisku melesak makin dalam, kocokanku makin
keras, sekeras desah kenikmatannya. Kubalikkan tubuhnya, dia telentang di atas meja,
kunaikkan satu kakinya di pundakku, kukocok dengan cepat dan sedalam mungkin.
"ss.. eegghh.. udaahh oom, Febi
nggaak kuaat, mau keluar niih" desahnya "Sama Om juga"
"Kita sama sama, keluarin di dalam saja, aman kok, Febi pake pil, jangan ku.. aa.. sshhiit" belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya ternyata sudah orgasme duluan, aku makin cepat mengocoknya, tak kuhiraukan teriakan orgasme Febi, makin keras teriakannya makin membuatku bernafsu. Semenit kemudian aku menyusulnya ke puncak kenikmatan, kembali dia teriak keras ketika penisku berdenyut menyemprotkan sperma di vaginanya. Aku telah membasahi vagina dan rahim keponakanku dengan spermaku, dia menahanku ketika kucoba menarik keluar.
"Kita sama sama, keluarin di dalam saja, aman kok, Febi pake pil, jangan ku.. aa.. sshhiit" belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya ternyata sudah orgasme duluan, aku makin cepat mengocoknya, tak kuhiraukan teriakan orgasme Febi, makin keras teriakannya makin membuatku bernafsu. Semenit kemudian aku menyusulnya ke puncak kenikmatan, kembali dia teriak keras ketika penisku berdenyut menyemprotkan sperma di vaginanya. Aku telah membasahi vagina dan rahim keponakanku dengan spermaku, dia menahanku ketika kucoba menarik keluar.
"Tunggu, biarkan keluar
sendiri" cegahnya, maka kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, kucium
kening dan pipinya sebelum akhirnya kucium bibirnya.
"Makasih Om, permainan yang
indah, the best deh pokoknya" bisiknya menatapku tajam.
Kuhindari tatapannya, tak sanggup aku melawan tatapan tajam keponakanku itu.
Kuhindari tatapannya, tak sanggup aku melawan tatapan tajam keponakanku itu.
Jarum jam masih menunjukkan pukul
17:30, entah sudah berapa lama aku melayani kedua gadis ini, gelapnya malam
mulai menyelimuti Kota Semarang, para pedagang kaki lima di simpang lima sudah
mulai menata dagangannya. Aku sempat tertidur sejenak diantara kedua gadis itu sebelum
mereka membangunkanku untuk makan malam, jam 19:30. Kami memutuskan untuk makan
di luar sambil shoping di Mall sebelah hotel. Ternyata mereka lebih senang
shopping lebih dulu dari pada makan malam, padahal aku sudah lapar akibat
bekerja terlalu keras, terpaksa aku memenuhi keinginan kedua gadis itu. Diluar
dugaanku justru mereka memilih untuk belanja parfum, lingerie dan pakaian
dalam, aku ikutan memilihkan untuk mereka, tentu saja yang kuanggap sexy, tak
jarang aku diminta memberikan penilaian ketika mereka mencoba bra di ruang
ganti, tentu dengan senang hati aku memenuhinya. Tak lupa kami membeli beberapa
VCD porno di pinggiran jalan.
Kami kembali ke hotel hampir pukul
22:00, kuminta mereka memakai apa yang baru mereka beli, sungguh sexy dan menggairahkan
kedua bidadari itu mengenakan pakaian dalam yang serba mini pilihanku, hampir
semuanya dicoba, tapi aku sudah tak tahan lagi melihat penampilan mereka. Saat
mereka berganti lagi untuk ketiga kalinya, aku sudah tak sanggup menahan lebih
lama lagi, terutama melihat tubuh sexy Febi, kutarik mereka ke ranjang dan
kucumbui mereka bersamaan, kami saling bergulingan seperti anak kecil sedang
bermain main. Mereka berebutan melepas pakaian dan celanaku, bahkan suit untuk
menentukan siapa yang melepas celana dalamku. Bersama sama mereka mulai
menjilati dan mengulum penisku, kedua lidah gadis itu secara bersamaan
menyusuri penis dan kantong bola dengan gerakan berbeda, aku segera melayang
tinggi didampingi kedua bidadari ini.
"Om percaya nggak, Desi itu
udah lama lho kagum sama Om, jadi ini sudah menjadi fantasinya" kata Febi
disela kulumannya."Ih kamu buka rahasia deh" Desi yang sedang
menjilati pahaku mencubih Febi, mereka berdua tertawa sambil terus
menjilatiku.Kedua tanganku meremas remas dua buah dada yang berbeda, baik
kekenyalan maupun besarnya, punya Febi lebih besar tapi Desi lebih kenyal dan
padat. Febi lebih cepat mengambil inisiatif, kakinya dilangkahkan ke tubuhku
hingga posisi 69, Desi yang kalah cepat bergeser di antara kakiku, sambil
menjilati Febi aku masih bisa merasakan kuluman dari dua mulut yang berbeda.
Ketika Febi menegakkan tubuhnya melepaskan kulumannya pada penisku, Desi segera
mengambil posisi untuk memasukkan penisku ke vaginanya, rupanya takut keduluan
Febi dia tak mempedulikan lagi kondomnya seperti sebelumnya, kurasakan
vaginanya yang rapat mencengkeram erat penisku, apalagi tanpa kondom, kurasakan
makin kuat mencengkeram, hingga semua tertanam dia tak berani bergerak."Om
kalo keluar bilang ya" rupanya dia masih sedikit sadar
Perlahan tubuhnya turun naik dan
mulai menggoyangkan pinggul, penisku terasa diremas dengan hebat, gerakannya
makin cepat dan tidak beraturan. Tak lebih lima menit dia turun dari tubuhku.
"Feb, giliranmu, aku nggak udah
tahan, bisa keluar duluan aku nanti, habis enak banget sih" katanya.
Mereka bertukar posisi, sepeti
sebelumnya penisku langsung masuk ke vagina Febi tanpa hambatan yang berarti,
berbeda dengan Desi yang mendiamkan sesaat sebelum mengocok, tubuh Febi
langsung turun naik dengan cepatnya, pinggangnya berputar putar sambil
tangannya mengelus kantong bola. Aku tak bisa melihat ekspresi wajah Febi
karena mukaku tertutup pantat Desi yang tepat berada di atasku dengan vagina
terbuka lebar. Jerit dan desahan kedua gadis di atasku saling bersahutan
merasakan kenikmatan yang berbeda.
Tak lama kemudian Febi turun, Desi
mengikutinya, kedua gadis itu lalu telentang bersebelahan dan membuka kakinya
lebar lebar seakan mempersilahkan aku untuk memilihnya, aku bingung, kutatap
mata keduanya, sama sama memberikan pandangan yang menggairahkan. Aku yakin
Desi tidak bisa bertahan lama, maka kupilih Desi duluan supaya aku bisa
menikmati Febi lebih lama dan memuntahkan spermaku ke vagina keponakanku
itu."Om janji ya kalo keluar di luar saja" katanya ketika aku mendekatinya."Kalo
aku nggak mau" godaku
"Pleese" Desi memelasTanpa
menjawab lagi kusapukan penisku ke vaginanya dan mendorongnya masuk perlahan
lahan."Pelan pelan Om, ini pertama kali aku nggak pake kondom"
katanya pelan ketika penisku mulai menerobos liang kenikmatannya.
Kutelungkupkan tubuhku menindih
tubuhnya setelah penisku masuk semuanya, pantatku mulai turun naik di atas
tubuhnya, desah kenikmatan mengiringi kocokanku. Febi bergeser di belakangku,
rupanya dia mengatur kaki Desi, diletakkannya menjepit pinggangku, penisku
makin dalam mengisi liang kenikmatannya. Kukocok dia dengan cepat dan keras,
kuhentakkan sedalam mungkin, tak kupedulikan desahan kenikmatannya, aku ingin
segera membuatnya orgasme dan secepatnya beralih ke tubuh keponakanku yang
sedang menunggu giliran. Diluar dugaanku, ternyata Desi tidak segera orgasme
seperti perkiraanku, gerakannya malah semakin liar mencengkeramku, justru
hampir saja aku keluar duluan kalau tidak segera kuhentikan gerakanku dan
kucabut penisku dari vaginanya.
Desi tersenyum penuh kemenangan melihat aku hampir kalah, kuambil napas dalam dalam lalu kutahan dan kuhembuskan pelan pelan. Febi sudah bersiap di sampingnya dengan posisi nungging, kuturunkan teganganku dengan menciumi pantat Febi, menjilati vagina dan anusnya, dia menggeliat geli, kukocok vaginanya dengan dua jariku, dia mendesis. Setelah kurasa aku siap maka langsung kumasukkan penisku ke liang Febi dengan sekali dorong disusul kocokan cepat, dia menjerit nikmat lepas.
"Des, remas dadanya"
perintahku sambil mengocoknya keras, Desi memandangku bingung, kuraih tangannya
dan kuletakkan di dada Febi, kedua gadis itu kelihatan risih tapi aku tak
peduli, kupaksa Desi meremasnya. Akhirnya Febi bisa menerima remasan Desi di
buah dadanya, aku makin bergairah melihatnya, apalagi ketika Desi meremas kedua
buah dada yang menggantung itu. Nafsuku makin meninggi ketika Febi membalas
meremas buah dada Desi, mereka saling meremas buah dada.
Aku terkejut ketika Febi mengambil
inisiatif lebih jauh, tiba tiba dia menciumi buah dada Desi dan menjilati
putingnya, mulanya Desi tertawa geli menerima hal itu, tapi kemudian dia ikutan
mendesah dan meremas rambut Febi yang ada di dadanya. Aku makin bergairah
dibuatnya, kocokanku makin cepat dan liar, seliar sedotan Febi pada buah dada
sahabatnya. Desi menyusupkan tubuhnya di bawah Febi, kepalanya tepat di bawah
bukit yang menggantung, mereka saling mengulum buah dada seperti permainan
lesbi meski aku yakin mereka bukan golongan itu.
Imajinasiku makin liar melihat
kenakalan mereka, kuminta Desi nungging di atas Febi, tubuhnya menempel rapat
di punggungnya, memeluk rapat dari belakang, vaginanya tepat di atas pantat
Febi, masih tetap mengocok Febi kumasukkan dua jariku ke liang kenikmatannya,
kedua gadis itu mendesah bersahutan. Kutarik keluar penisku dan segera beralih
ke liang kenikmatan di atasnya, masih saja kurasakan rapatnya vagina Desi,
nikmat yang berbeda dari dua vagina. Kocokanku berpindah dari satu vagina ke
vagina lainnya. Aku tak tahu harus mengakhirinya di mana, hampir saja aku
orgasme ketika tiba tiba kudengar bunyi HP-ku. Ingin kuabaikan tapi deringnya
terasa mengganggu.
"Terima dulu Om, siapa tahu
penting, atau mungkin dari Mbak Lily" kata Febi ketika aku sedang mengocok
vagina di atasnya.
Terpaksa kutinggalkan kedua vagina
yang sedang penuh gairah itu, benar saja istriku menelpon, aku menjauhi mereka,
duduk di sofa supaya tidak terdengar suara napas mereka yang sedang
ngos-ngosan. Kedua gadis itu menyusulku, Desi bersimpuh di antara kakiku
sedangkan Febi duduk di sebelahku, menempelkan telinganya di HP, ikutan
mendengar pembicaraanku dengan tantenya, sambil tangannya mengocok penisku
bersamaan dengan lidah dan mulut Desi yang menari nari di penisku yang masih
menegang. Handphone kuberikan ke Febi ketika istriku mau bicara padanya, akupun
tak mau berlama lama bicara sama istriku dalam keadaan seperti ini, bisa bisa
bicara sambil mendesah.
"Ya Mbak, ini Om mau antar Febi
pulang, udah malam, lagian besok kan kuliah.. agak siang sih, jam 11 pagi
kuliahnya.. tapi Febi belum pamit sama ibu Kost, ntar dicari"
Untungnya Febi mengikuti pembicaraan
kami tadi hingga bisa langsung nyambung, kubalas Febi dengan mengulum putingnya
ketika bicara sama tantenya, dia melototiku.
"..oke deh Mbak, nanti Febi telpon ke kost deh" jawabnya mengakhiri pembicaraan.
"Nakal ya, awas Febi balas" katanya lalu jongkok di sebelah sahabatnya, bersamaan mereka mengulum penisku, lidah kedua gadis itu menyusuri penisku kembali, aku mendesah sambil meremas rambut keduanya. Begitu nikmat permainan dua lidah, apalagi ketika bibir keponakanku mulai meluncur di batang kemaluanku, sementara sobatnya mempermainkan kantong bola dengan lidahnya, membawaku melayang tinggi dalam kenikmatan.
"..oke deh Mbak, nanti Febi telpon ke kost deh" jawabnya mengakhiri pembicaraan.
"Nakal ya, awas Febi balas" katanya lalu jongkok di sebelah sahabatnya, bersamaan mereka mengulum penisku, lidah kedua gadis itu menyusuri penisku kembali, aku mendesah sambil meremas rambut keduanya. Begitu nikmat permainan dua lidah, apalagi ketika bibir keponakanku mulai meluncur di batang kemaluanku, sementara sobatnya mempermainkan kantong bola dengan lidahnya, membawaku melayang tinggi dalam kenikmatan.
Akhirnya aku menyerah dalam
permainan dua mulut mereka, menyemprotlah spermaku ketika berada di mulut Desi,
segera dia menarik keluar tapi terlambat, beberapa semprotan sudah membasahi
tenggorokannya. Febi segera meraih penisku dan langsung memasukkan ke mulut
mungilnya, semprotanku sempat mengenai wajah dan rambut Desi sebelum akhirnya
habis dalam kuluman keponakanku, sedikit tetesan keluar dari celah bibirnya,
dia menyedot habis semburan demi semburan hingga tetes terakhir tanpa
mengeluarkan dari mulutnya. Kedua gadis itu lalu menyapukan penisku yang sudah
lemas ke wajahnya.
Malam itu kuhabiskan dengan
mengarungi lautan kenikmatan bersama keponakanku dan sahabatnya, sepertinya
mereka tak ada kata puas merengkuh kenikmatan demi kenikmatan, bergantian aku
harus melayani mereka sampai kewalahan melayaninya, tapi dengan bantuan film
VCD yang kami putar di Laptop, sedikit banyak aku bisa mengimbangi permintaan
mereka. Entah jam berapa kami baru bisa tertidur, "terpaksa" aku
pulang dengan pesawat terakhir ke Jakarta besoknya, "tak tega"
meninggalkan keponakanku tercinta berikut sobat karibnya.
Pesanku sebelum meninggalkannya di airport, jangan merusak rumah tangga orang, jangan merebut suami orang, dan yang paling penting, jangan sampai hamil. Suatu pesan yang tak layak disampaikan seorang paman kepada keponakannya, apa boleh buat, tak mungkin aku menyadarkan Febi dari kelakuannya kalau aku sendiri berperilaku sama, bahkan meniduri keponakanku.
E N D
Pesanku sebelum meninggalkannya di airport, jangan merusak rumah tangga orang, jangan merebut suami orang, dan yang paling penting, jangan sampai hamil. Suatu pesan yang tak layak disampaikan seorang paman kepada keponakannya, apa boleh buat, tak mungkin aku menyadarkan Febi dari kelakuannya kalau aku sendiri berperilaku sama, bahkan meniduri keponakanku.
E N D
0 komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Berkunjung